Kamis, 20 Januari 2011

Laporan Praktikum Biologi Perikanan

LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI PERIKANAN
Mata Kuliah : Biologi Perikanan

Kelompok I :
1. Aris Munandar : 08. 0529. c
2. Joko Pranoto : 08. 0532. c
3. Prawiro : 08. 0534. c
4. Risky Dwi Oktaviana : 08. 0536. c
5. Supiyanto : 08. 0539. c

FAKULTAS PERIKANAN
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
UNIVERSITAS PERIKANAN
2011

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 latar belakang
Ilmu Biologi Perikanan merupakan salah satu ilmu yang mendasari ilmu-ilmu perikanan tangkap lainnya seperti Metode Penangkapan Ikan, Penanganan Ikan serta ilmu lainnya. Oleh karena itu ilmu Biologi Perikanan ini sangat penting. Ibaratnya kita ingin makan, tetapi tidak tahu apa yang akan dimakan. Ilmu Biologi perikanan juga seperti itu, kita ingin menangkap ikan tetapi tidak tau ikan apa yang akan ditangkap. Tujuan dari pada mempelajari Biologi Perikanan ini adalah agar kita mengetahui pembagian daerah perairan berdasarkan kedalaman yaitu antara lain pelagic, mid water dan demersal serta pembagian berdasarkan kriteria yang lain. Selain itu tentang anatomi dan fisiologi ikan juga patut kita pelajari. Dan yang paling penting adalah kita mengetahui jenis ikan ekonomis penting serta penyebarannya di perairan.
Pembagian daerah perairan dapat dibagi menjadi beberapa zona. Beberapa istilah yaitu Supralithoral yaitu dasar perairan yang selalu dalam keadaan basah karena adanya hempasan ombak yg datang/pergi. lalu Sub lithoral yaitu daerah pasang surut sampai kedalaman ± 20 m. dan Eu-lithoral yaitu bagian dasar perairan dihitung dari garis surut sampai kedalaman ± 200 m.

1.2 Tujuan
Tujuan dari kegiatan praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui pendugaan populasi dengan metode petterson-Sensus ganda
2. Mengetahui hubungan berat dan panjang ikan layang.
3. Mengetahui tingkat pematangan gonad dan indeks gonado somatik ikan layang (Decapterus russelli).
4. Mengetahui fekunditas telur ikan layang (Decapterus russelli).

1.3 Manfaat
Kegiatan praktikum ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai aspek biologi ikan layang (Decapterus russelli) dan ikan mujair (Oreochromis mossambicus) yang dapat dijadikan bahan dalam pengembangan pengelolaan sumberdaya ikan layang dan mujair baik untuk kepentingan penangkapan maupun budidaya agar kelestariannya dapat berkelanjutan.

1.4 Waktu Dan Tempat
Praktek mata kuliah “ Biologi Perikanan ” ini dilakasanakan pada hari kamis, 30 Desember 2010. Praktek dilaksanakan pada pukul.09.30 – selesai , dan bertempat Laboratorium Biologi,Universitas Pekalongan.


BABII
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan Mujair
Ikan mujair merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, bentuk badan pipih dengan warna abu-abu, coklat atau hitam. Ikan ini berasal dari perairan Afrika dan pertama kali di Indonesia ditemukan oleh bapak Mujair di muara sungai Serang pantai selatan Blitar Jawa Timur pada tahun 1939. Ikan mujair mempunyai toleransi yang besar terhadap kadar garam/salinitas. Jenis ikan ini mempunyai kecepatan pertumbuhan yang relatif lebih cepat, tetapi setelah dewasa percepatan pertumbuhannya akan menurun. Panjang total maksimum yang dapat dicapai ikan mujair adalah 40 cm.
Sentra perikanan terdapat didaerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera, Kalimantan.
Klasifikasi ikan mujair adalah sebagai berikut:
  • Kelas : Pisces
  • Sub kelas : Teleostei
  • Ordo : Percomorphi
  • Sub-ordo : Percoidea
  • Famili : Cichlidae
  • Genus : Oreochromis
  • Species : Oreochromis mossambicus
Adapun jenis ikan mujair yang dikenal antara lain: mujair biasa, mujair merah (mujarah) atau jamerah dan mujair albino.


2.2Ikan Layang
Ikan layang merupakan salah satu jenis ikan laut yang sering dijadikan sebagai teman nasi. Orang banyak yang menyukai ikan ini disamping rasanya enak ikan ini juga mempunyai nilai giji yang tinggi. Ikan layang diolah dan dijual di banyak pasar umum dan tradisional umumnya yang mengkonsumsi jenis ikan ini adalah kalangan menengah ke bawah, karena harga jenis ikan ini adalah relatif murah. Tingkat konsumsi ikan di negara kita masih rendah bila dibandingkan dengan negara-negara di tetangga kita, oleh karena itu sangatlah cocok bila ikan layang ini dijadikan sebagai makanan yang dikonsumsi sehari-hari sebagai salah satu cara untuk meningkatkan konsumsi ikan di masyarakat.
Klasifikasi ikan layang menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut:
  • Filum : Chordata 
  • Subfilum : Vertebrata
  • Kelas : Actinopterygii
  • Ordo : Perciformes
  • SubOrdo : Percoidei
  • Famili : Carangidae
  • Genus : Decapterus
  • Spesies : Decapterus russelli RUPPELL

Ikan layang (Decapterus russelli) mempunyai nama umum round scad (Nurhakim, 1987). Ikan layang merupakan ikan yang mempunyai kemampuan bergerak dengan cepat di air laut. Tingginya kecepatan tersebut dapat dicapai karena bentuk tubuhnya yang seperti cerutu dan mempunyai sisik yang sangat halus (Burhanuddin et. al. 1981).
Ikan layang (Decapterus russelli) bentuk tubuh seperti cerutu tetapi agak pipih, sirip dada lebih pendek dari panjang kepala, maxilla hampir mencapai lengkung mata terdepan, ikan layang (Decapterus russelli) dalam keadaan segar seluruh tubuhnya berwarna merah jambu, dan pada bagian belakang tutup insang terdapat totol hitam (Burhanuddin et al, 1981). Menurut Anonimous (1990) ciri-ciri ikan layang adalah bentuk tubuh memanjang dan agak gepeng. Nurhakim (1987) menyatakan sirip dada berbentuk falcate dan ujung sirip tersebut mencapai awal dari sirip punggung kedua.
Ikan layang merupakan ikan perenang cepat yang hidup berkelompok di Laut yang jernih dan bersalinitas tinggi. Menurut Hariati et al., (2005) Ikan layang (Decapterus russelli) hidup di perairan dengan salinitas tinggi yaitu ± 32‰. Ikan layang juga termasuk dalam ikan stenohalyn yang dapat hidup dengan memakan plankton (Burhanuddin et.al.,1981). Makanan ikan layang sangat tergantung pada plankton, terutama jenis-jenis zooplankton. Pada beberapa kasus ternyata bahwa ikan layang tidak mutlak tergantung pada zooplankton. Tiews et al. (1968) dalam Burhanuddin et al. (1981) mendapatkan bahwa ikan-ikan kecil merupakan makanan bagi Decapterus russelli dan Burhanuddin pernah menemukan satu ekor dari kota agung isi perutnya hanya dua ekor ikan teri (Stolephorus spp.) dan seekor ikan japuh (Dussumiera acuta). Menurut Martosewojo dan Djamali (1980) dalam Burhanuddin (1981) makanan Decapterus russelli yang utama adalah Crustacea seperti Copepoda serta telurnya, Mysidacea, Amphipoda, Ostracoda, dan potongan-potongan udang.



BAB III
MATERI DAN METODE

3.1 Fekunditas
Fekunditas adalah tingkat kematangan gonad. Menggunakan ikan mujahir sebagai objek praktikum. Cara mendapatkan telur dengan cara pembedahan, ada beberapa cara menghitung telur.
- Cara menjumlah langsung ( telur ukuran besar/ bisa dilihat dengan kasat mata.
- Cara volumetric.
- Gabungan dari penjumlahan langsung dan volumetric.
Langkah- langkah Perhitungan Volumetric.
- Ikan dibedah terlebih dahulu untuk mendapatkan kantong telur atau gonad.
- Kantong telur diangkat dan diangin-anginkan dan menggunakan kertas saring sebagai wadah.
- Ukur volume gonad menggunakan gelas ukur.
- Kantong gonad dibuka kemudian diambil sampling sebanyak 3 kali, kemudian dirata-rata.
Perhitungan Cara Gabungan.
- Setelah diangin-anginkan, gonad ditimbang.
- Setalah telur ditimbang, mengambil sampling 3 kali, ditimbang.
- Kemudian diencerkan dengan 50cc air.
- Ambil sampling 1 cc, di teteskan ke kaca preparat, dihitung jumlahnya menggunakan kaca pembesar.


3.2 Pendugaan Populasi.
Pendugaan populasi dengan cara simulasi menggunakan biji jagung sebagai ikan dan biji kedelai sebagi ikan yang sudah diberi tanda.
Langkah-langkah pendugaan populasi dengan cara simulasi:
- Biji jagung disebar merata kedalam tampah.
- Kemudian menggunakan gelas ukur yang digunakan sebagai jaring diletakkan di sembarang tempat dengan tidak melihat.
- Biji jagung yang tertangkap diambil, dihitung kemudian setelah di hitung biji jagung tersebut diganti dengan biji kedelai sebagai tanda ikan sudah diberi tanda.
- Kemudian biji kedelai tersebut dimasukkan kembali kedalam tampah secara merata.
- Kemudian dilakukan sampling sebanyak 7 kali, dan langkahnya berulang-ulang seperti diatas.

3.3 Hubungan Berat dan Panjang.
Hubungan berat dan panjang ikan merupakan cara pengontrolan pertumbuhan ikan, sesuai atau tidaknya berat dan panjang ikan.
Menggunkan ikan layang sebagai objek praktikum, langkah-langkahnya :
- Ikan layang sebanyak 55 ekor ditimbang, kemudian langsung diukur panjangnya agar datanya tidak tertukar.
- Berulang-ulang dilakukan sampai ikan habis dan datanya terkumpul.
- Setelah data terkumpul dilakukan perhitungan dengan rumus.


3.4 Alat dan Bahan.
1. Fekunditas.
- Ikan Mujahir
- Alat-alat operasi
- Kaca pembesar (luv)
- Kertas saring
- Kaca preparat
- Gelas ukur
- Timbangan
- Talenan

2. Pendugaan Populasi (system simulasi).
- Biji jagung (ikan)
- Biji kedelai (ikan yang sudah diberi tanda)
- Tampah (wadah perairan)
- Gelas ukur (Jaring)

3. Hubungan Berat dan Panjang.
- Ikan layang
- Timbangan
- Penggaris


BABIV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengukuran Fekunditas.
Alat dan bahan :
• Alat Bedah
• Gelas Ukur
• Timbangan Elektrik
• Kertas Saring
• Pipet Volumetrik
• Mikroskop/Luv
• Kaca Preparat
• Ikan Mujair

Tabel Pengamatan
No Ikan Berat Gonad
(G) Volume Pengenceran (V) JumlahTelur/cc
(X) Berat Telur Sampling (Q) Fekunditas (F)

4.2 Pendugaan Populasi.
Alat dan bahan :
• Biji Jagung
• Biji Kacang
• Tampah
• Gelas


4.3 Pendugaan Populasi.
Alat dan bahan :
• Pengukur Panjang Ikan
• Timbangan
• Ikan Layang



BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1. Fekunditas atau kematangan gonad, sangat berpengaruh terhadap baik atau tidak nya kualitas ikan yang akan di hasilkan nanti.
2. Pendugaan populasi berguna untuk mengetahui jumlah banyaknya ikan pada suatu perairan dengan cara metode petterson atau sensus ganda. sampling ikan yang tertangkap.
3. Hubungan berat dan panjang ikan berpengaruh pada banyak tidaknya ikan.

Saran
1. Sebaiknya praktikum untuk pendugaan populasi pada ikan lebih baik dilakukan langsung di kolam atau di tambak.
2. Kurang lengkapnya alat –alat untuk praktikum di lab sehingga mempersulit untuk praktikum.



DAFTAR PUSTAKA
Cholik, F., Artati dan Arifudin. 1984. Pengelolaan Kualitas Air Kolam Ikan. Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta.
Effendie, M.I. 1979. Metoda Biologi Perikanan. Yayasan Dwi Sri, Bogor.
Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N. Katikasari and S. Wirjoatmodjo. 1993. Fresh Water Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Periplus Editions Limited-Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
Steel, R.G.D., dan J.H. Torrie. 1989. Prinsip-prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan Biometrik. PT Gramedia, Jakarta.
Sumantadinata, K. 1983. Pengembangbiakan Ikan-ikan Peliharaan di Indonesia. Sastra Hudaya.
Wotton, R.J. 1979. Energy Cost of Production and Evironmental of Fecundity in Teleost Fishes. Pp 123-159, In: P.J. Miller (ed) Fish Physiology: Anabolic Adaptifines in Teleost. 200 Logical. Society of London Academic Press, London
"terima kasih telah berkunjung ke blog saya, ditunggu kritik dan sarannya"
jangan lupa kunjungi sponsor kami, silahkan klik link di bawah

JELY DARI LIMBAH KULIT PISANG DAN JERAMI NANGKA

Kulit pisang maupun jerami nangka selama ini masih dianggap sebagai limbah dan masih dibuang begitu saja oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, dan bahkan sering menjadai masalah yang dapat mencemari lingkungan.
Padahal, banyakmanfaat dan khasiat yang dapat di peroleh dari kulit pisang dan jerami nangka. Hasil dari penelitian dari tim Universitas Kedokteran Taichung Chung Shan, Taiwan, menyatakan bahwa kulit pisang bahwa kulit pisang kaya akan vitamin B6 dan serotin. Selain itu ekstrak dari kulit pisang juga terbukti berpotensi dapat mengurangi gejala depresi dan menjaga kesehatan retina mata, bahkan dianjurakan untuk mencegah depresi dapt menkonsumsi jus kulit pisang segar setiap seminggu sekali.
Demikian pula dengan jerami nangka wlaupun sering dianggap limbah ternyata masih banyak mengandung zat-zat yang sama dengan daging buahnya, Seperti proterin, serat kasar, gula,dan sebagainya sehingga masih bias dimanfaatkan untuk dibuat jelly karena masih mempunyai cita rasabuah nangka.
Jelly merupakan salah satu produk pangan semi padat yang cukup dikenal dan disukai oleh masyarakat. Biasanya jelly dikosumsi sebagai teman makan roti untuk sarapan pagi. Di pasaran terdapat berbagai jenis jelly dari buah – buahan dan tidak semua jenis jelly yang di perdagangkan bermutu tinggi, di samping itu harganyapun relative mahal. Sebenarnya membuat jelly sendiri tidak kalah mutunya dengan yang ada di pasaran bahkan kadang – kadang lebih baik. Apalagi kalau kita gunakan kulit pisang atau jerami nangka sebagai bahan baku jelly, sudahm jelas biaya produksi yang di keluarkanpun akan relative kecil, di samping tentunya jelly yang dihasilkan juga memiliki khasiat bagi kesehatan.
Syarat dan pembuatan jelly : dalam pembuatan jelly yang perlu diperhatikan adalah komposisi penggunaan bahan mentahnya yaitu 45 bagian kulit pidang atau jerami nangka dan 55 bagian gula. Pemekatan campuran ini minimal memiliki total padatan 65%. Unutuk mendapatkan jelly yang bermutu dengan flavour yang harum, maka perlu di gunakan campuran kulitpisang yang tua tapi setengeh matang. Penggunaan kulit pisang atau jerami nangka yang tua tapi stengah matang adalah untuk mendapatkan sumber pectin dan keasaman yang cukup baik. Pectin adalah senyawa polisakarida yang berguna untuk membuat gel dengan gula pada suasana asam. Ciri2 jelly yang baik adalah transparan, mudah di oleskan dan mempunyai aroma dan rasa buah asli.

CARA MEMBUAT JELLY
Agar produk jelly dibuat sendiri tidak kalah mutunya dengan jelly yang beredar di pasaran, maka kita harus memperhatikan aspek kebersihan dari alat2 maupun bahan baku yang akan digunakan. Alat yang digunakan harusnya dalam keadaan bersih dan tidak berkarat. Terbuat dari bahan yang tidak beracun, utuh tidak cacat dan mempunyai permukaan yang rata serta tidak terbuat dari bahan yang dapat bereaksi selama proses pengolahan atau pemanasan, seperti bahan melamin, sterofoam, tembaga, seng, timah hitam dan yang lain2. Sedangkan untuk persiapan bahan baku perlu di perhatikan kebersihan yang menempal, berulat/busuk. Mencuci bahan pangan untuk membuang kotoran, kuman, dan minyak atau lilin. Mengupas dan membuang bahan pangan yang tidak dimakan. Bahan makanan sebaiknya dicuci terlebih dahulu sebelum dikupas atau di potong.
Pembuatan jelly dari kulit pisang maupun dari jerami nangka pada prinsipnya sama, yang membedakan hanya pada bahan bakunya saja. Untuk membuatnya diperlukan bahan2 sebagai berikut:
2 kg kulit pisang atau jerami nangka, potong2 sebesar dadu 450 gram gula pasir. 1 sdm sitrun zuur air bersih. Untuk pembuatan jelly dari kulit pisang hendaknya digunakan kulit pisang nangka. Perbandingan kulit pisang yang digunakan adalah kulit pisang nangka matang 1kg ditambah dengan kulit pisang nangka mentah 1kg. Sedang untuk jerami nangka dapat di gunakan dari buah yang sama dengan memilih jerami yang besar2 berwarna kuning/matang 1 kg. Dan berwarna agak keputihan 1kg.
Cuci seluruh bahan hingga bersih kemudian potong kecil2. Rebus bahan hingga bersih kemudian potong kecil2. Rebus bahan selama 5 sd 10 menit dengan perbandingan 1:1 artinya 1 bagian bahan dengan 1 bagian air bersih dan di tambahkan pula 1 sdm sitrun zuur. Setelah itu dihancurkan dengan blender, lalu di saring dengan kain saring(blacu) atau saringan kelapa hingga diperoleh sarinya. Cairan yang di peroleh biarkan selama satu jam sampai kotoran mengendap dan di peroleh cairan yang bening. Untuk membuat jelly takar sari buah sebanyak 450cc, kemudian tuangkan ke dalam wajan lalu didihkan bersama dengan gula pasir hingga kental dan masak. Tes dengan garpu makan bila sudah terbentuk selaput rongga garpu menandakan jelly sudah siap diangkat tuangkan dalam botol jam/topics tutup rapait. Sterilkan dengan direbus selama 15 menit. Jelly yang di hasilkan akan tahan disimpan selama satu bulan atau lebih.

Budidaya Kerapu Macan

1.1 Latar Belakang
Ikan Kerapu (Epinephelus fuscoguttatus) umumnya dikenal dengan istilah "groupers" dan merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai peluang baik di pasar domestik maupun pasar internasional dan selain itu nilai jualnya yang cukup tinggi. Eksport ikan kerapu (Epinephelus fuscoguttatus) melaju pesat, dari 19 ton pada tahun 1987 menjadi 57 ton pada tahun 1988 (Deptan, 1990).
Ikan Kerapu (Epinephelus fuscoguttatus) mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan untuk dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat dan dapat diproduksi masal, untuk melayani permintaan pasar ikan kerapu dalam keadaan hidup.
Berkembangnya pasaran ikan kerapu hidup karena adanya perubahan selera konsumen dari ikan mati atau beku kepada ikan dalam keadaan hidup, telah mendorong masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar ikan kerapu melalui usaha budidaya.ikan kerapu (Epinephelus fuscoguttatus) telah dilakukan dibeberapa tempat di Indonesia, namun dalam proses pengembangannya masih menemui kendala, karena keterbatasan benih. Selama ini para petani nelayan masih mengandalkan benih alam yang sifatnya musiman.Namun sejak tahun 1993 ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) sudah dapat dibenihkan.Balai Budidaya Laut Lampung sebagai unit Pelaksana tekhnik pembenihan ikan kerapu (Epinephelus fuscoguttatus), telah melakukan upaya untuk menghasilkan benih melalui pembenihan buatan manipulasi lingkungan dan penggunaan hormon.





1.2 Tujuan

• Agar mahasiswa dapat mengetahui cara pembesaran ikan kerapu macan
(Epinephelus fuscoguttatus)di tambak
• Agar mahasiswa dapat melakukan persiapan wadah di tambak
• Agar mahasiswa dapat mengetahui hambatan atau permasalahan dalam manajemen pembesaran ikan kerapu macan di tambak serta mengetahui cara mengatasi hambatan atau permasalahan yang terjadi di tambak


TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Ikan Kerapu (Epinephelus fuscoguttatus)
Menurut Myers,et.al, (2005), menjelaskan bahwa kerapu macan
(Epinephelus fuscoguttatus) diklasifikasikan sebagai berikut :



Gambar 2.1. Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus)

Phylum :Chor data,
Sub phylum :Ver tebr ata,
Class :Os teichty es ,
Sub class :Actinopter igi,
Ordo :Percomorphi, Sub ordo :Percoidea,
Family :Serranidae,
Sub family :Epinephel inae,
Genus :Epinephelus/Cromileptes / Variola/ Plectropomus,
Spesies : (Epinephelus fuscoguttatus)

Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) atau sering juga disebutGr oouper dipasarkan dalam keadaan hidup. Golongan ikan kerapu yang paling banyak adalah golongan Epinepelus sp, namun yang paling banyak di kenal di budidayakan adalah jenis kerapu Lumpur(Epinephelus suillus) dan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus).Golongan
Epinephelus memiliki tubuh yang lebih tinggi dari kerapu Lumpur
(Epinephelus suillus), dengan bintik-bintik yang rapat dan berwarna gelap,
sirip ikan kerapu macan berwarna kemerahan, sedangkan bagian sirip yang
lain berwarna coklat kemerahan Sunyoto Dan Mustahal (2000).

2.2 Morfologi Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus)
Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) mempunyai bentuk badan yang pipih memanjang dan agak membulat (Direktorat Jendral Sudirman Perikanan Deperteman Pertanian, 1979).Mulut lebar dan di dalamnya terdapat gigi kecil yang runcing (Kordi, 2001). Direktorat Jendral Perikanan Depertemen Pertanian (1979), menjelaskan bahwa rahan bawah dan atas dilengkapi dengan gigi yang berderet 2 baris lancip dan kuat.
Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) mempunyai jari-jari sirip yang keras pada sirip punggung 11 buah, sirip dubur 3 buah, sirip dada 1 buah dan sirip perut 1 buah. Jari-jari sirip yang lemah pada sirip puggung terdapat 15-16 buah, sirip dubur 8 buah, sirip dada 17 buah dan sirip perut 5 buah.
Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) memiliki warna seperti sawo matang dengan tubuh bagian verikal agak putih.Pada permukaan tubuh terdapat 4-6 pita vertical berwarna gelap serta terdapat noda berwarna merah seperti warna sawo (Kordi 2001).
2.3 Habitat dan Penyebaran
Menurut Heamstra dan ramdall (1993, cit. Anonim 2001), ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) merupakan kelompok yang hidup di dasar perairan berbatu dengan kedalaman 60 meter dan daerah dangkal yang mengandung koral. Selama siklus hidupnya memiliki habitat yang berbeda-beda pada setiap fasenya, ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) mampu hidup di daerah dengan kedalaman 0.5-3 meter pada area padang lamun, selanjutnya menginjak dewasa akan berpinda ke tempat yang lebih dalam lagi, dan perpindahan ikan berlansung pada pagi hari atau menjalan senja (Anonim, 2001).
Menurut Tampu Bolon dan Mulyadi (1989) cit. Anonim (2001) menjelaskanbahwa telur dan larva ikan kerapu macanbersifat pelagis sedangkan ikan kerapu muda hingga dewasa bersifat domersal.ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) bersifatnoktur nal, dimana pada siang hari lebih banyak bersembunyi pada liang-liang karang dan akan beraktifitas pada malam hari unuk mencari makanan.
Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) tersebar merata dari laut pasifik hingga ke laut merah tetapi lebih dikenal berasal dari teluk persi, Hawai, atauPholynes ia. Ikan kerapu macan terdapat hampir semua perairan pulau tropis Hindia dan samudra pasifik barat dari pantai timur Afrika sampai dengan Mozambika, selain itu juga ditemukan di Madagaskar dll.
2.4 Cara Makan dan Jenis Makanan
Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) merupakan hewan karnifora yang memangsa ikan-ikan kecil, kepiting, dan udang-udangan, sedangkan larva merupakan memangsa larva moluska.ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) bersifat karnifora dan cenderung menangkap/memansa yang aktif bergerak di dalam kolam air (Nybakken, 1988 Cit. Anonim, 2001), ikan kerapu macan juga bersifat kanibal. Biasanya mulai terjadi saat larfa kerapu berumur 30 hari, dimana pada saat itu larva cenderung berkumpul di suatu tempat dengan kepadatan tinggi.Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) mencari makan hingga menyergap mangsa dari tempat persembunyiannya (Anonim, 1991 cit. Anonim,2001). dengan cara makannya dengan memakang satu per satu makanan yang diberikan sebelum makan tersebut sampai ke dasar (Anonim, 1996 ).
2.5 Siklus Reproduksi dan Perkembangan Gonad
Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) bersifat Hermaprodit Protogini, yaitu perubahan kelamin dari betina dan menjelang dewasa akan berubah menjadi jantan Sunyoto dan Mustahal (2000).
Ikan kerapu mulai suklus reproduksinya sebagai ikan betina, kemudian akan berubah menjadi ikan jantan yang berfungsi masa interseks dan masa terakhir masa jantan (Afenddy, 1997). Ketika ikan kerapu masih muda(juvenil e), gonadnya mempunyai daerah ovarium dan daerah testis. Jaringan ovari kemudian mengisih sebagian gonad dan setelah jaringan ovari berfungsi mampu menhasilkan telur, Kemudian akan terjadi transisi di mana testisnya akan membesar dan ovarinya mengurut. Ikan kerapu macan(Epinephelus fuscoguttatus) yang sudah tua umumnya ovarium sudah teroduksi sekali sehingga sebagian besar dari gonad terisi oleh jaringan lain. Fase produksi pada induk betina di capai pada panjang tubuh antara 45-50 cm dengan berat 3-10 kg dan umur kurang lebih 5 tahun, selanjutnya menjadi jantan yang matang gonad pada ukuran minimal 74 cm dengan berat kurang lebih 11 kg.

2.6 Hama dan Penyakit
2.6.1 HamaMenurut Kordi, (2002) mengatakan bahwa hama merupakan
organisme yang dapat menimbulkan gangguan pada ikan budidaya di
dalam kolam.hama pada budidaya ikan kerapu macan(Epinephelus
fuscoguttatus) ada 3 macam yaitu : predator dan kompotitor.


2.6.2 Penyakit
Penyakit yang sering di menyerang ikan kerapu ada dua macam yaitu penyakit infeksi adalah penyakit yang dapat menginfeksi ikan kerapu yaitu berupa jamur, bakteri maupun virus.Sedangkan yang ke dua yaitu penyakit non infeksi adalah penyakit pada ikan kerapu yang di sebabkan oleh tidak sesuaiannya media pemeliharaan ikan kerapu yang ada di tambak dengan kondisi aslinya di alam sehingga menyababkan ikankerapu tersebut mati.


HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Alat dan Bahan
Tabel 3.1. Alat dan Fungsinya

No. Alat Fungsi
1 Basket
Sebagai tempat penampungan dan wadah pengankatan
ikan kerapu pada saat di lakukan pemanenan.
2 Pipa 6”
Sebagai alat untuk menyalurkan air dari tandong ke
dalam wadah pembesaran ikan kerapu

3 Pacul
Sebagai alat untuk memperbaiki pematan atau tanggul

4 Baskom Sebagai wadah penampungan pakan

5 Ember Sebagai wadah untuk pakan yang akan di berikan pada
ikan

6 Jala Tebar
Sebagai alat untuk menankap ikan/udang dalam jumlah
yang sedikit

7 Pompa Sebagai alat untuk menarik air dari tandon ke wadah
pemeliharaan ikan

8 Seser Sebagai alat untuk menankap dan menyeleksi ikan
kerapu

Sumber : Balai Besar Laut Lampung
Tabel 3.2. Bahan dan Fungsinya
No. Bahan Fungsi
Pakan ikan rucah
Sebagai pakan ikan kerapu macan

Air Sebagai media tempat hidupnya ikan

Plastik peking
Sebagai bahan untuk peking

Oksigen
Sebagai bahan untuk peking

Sumber : BBPBAP Jepara


















4.2 Tambak Pembesaran
a.)
b.)

Gambar 3.2. Tambak Ikan Kerapu Macan

(a). Karamba Penampungan ; (b). Kolam Pemeliharaan

Tambak pembesaran kerapu macan di BBPBAP Jepara terdiri dari 4 buah sekat menggunakan jaring yang masing-masing berbentuk segi empat dengan ukuran kolam panjang 100 m dan lebar 20 m. keempat petakkan tersebut masing – masing berukuran 10 m x 13 m x 0.8 m dimana keempat sekatan tersebut digunakan sebagai tempat pembesaran ikan kerapu macan dan bagian sisi dekat inlet dan outlet ditanam kerang hijau dan rumput laut sebagai biofilter.
Tambak tersebut dengan dasar tanah dan pematang juga dari tanah.Sudarsono dan Ranoemihardjo (1995), menjelaskan bahwa pematang merupakan salah satu bagian yang paling terpenting dari tambak.
Fungsi utama dari pematang adalah untuk menahan masa air sehingga dibutuhkan konstruksi yang khusus.Pematang mempunyai penampang melintang berbentuk trapezium.Tambak tersebut tidak memiliki pintu pemasukan air karena air masuk melalui pipa dengan menggukanan pompa yang dipasang di kolam tendon. Saluran pembuangan menggunakan 2 pipa yang berhubungan dengan saluran pembuangan
4.3 Persiapan Wadah

Persiapan tambak Pembesaran sama saja dengan persiapan tambak
pendederan merupakan bagian yang penting dalam kegiatan pembesaran yang merupakan salah satu faktor dalam keberhasilan proses budidaya. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mempersiapkan media yang baik untuk benih ikan kerapu macan yang akan di tebar ketambak tersebut agar dapat tumbuh dengan baik. Kegiatan persiapan tambak untuk pembesaran ikan kepu macan adalah sebagai berikut pemberantasan hama dan penyakit, pengeringan, pembalikan tanah, pengapuran, pemasangan
Shelter dan pemasukan air.

4.4 Penebaran
Proses sebelum ikan ditebar sering di sebut denganAklimatisasi atau adaptasi. Sifat hidup benih tidak terlepas dari sifat siklus hidup induknya, maka dalam adaptasi ada beberapa hal yang perlu di perhatikan :
• Waktu Penebaran (waktu penebaran sebaiknya pada saat suhu rendah)
• Sifat kanibalisme yang cenderung meningkat pada kepadatan tinggi
• Aklimatisasi terutama suhu dan salinitas
Cara aklimatisasi yang umumnya di lakukan terhadap benih pada pengankutan terutama adalah sebagai berikut : kantong plastik di buka, kemudian di ukur suhu dan salinitasnya. Jika salinitas sama atau hanya berbedah 1-2°/oo benih bisa di tebar setelah di sesuaikan suhunya. Tetapi jika salinitasnya lebih dari 2°/oo perlu ada pencampuran air dari kolam kedalam plastik sedikit demi sedikit dan secara bertahap dalam selang waktu 4-5 menit hingga salinitas dan suhu sama antara air yang ada dalam plastik dan dalam tambak benih dapat di tebar.
Pada penebaran ukuran benih ikan sangat beragam, benih yang digunakan di BBPBAP Jepara :

Tabel 3.3. Ukuran Benih Ikan Yang ditebar
No. Panjang Lebar Bobot
1
2
3
4
5
6 8.5
8
8.7
8
7.5
7.7 2
2
2.3
2
1.7
2 10
6.5
10
7
4.5
5.5


Rerata 8.067 2 7.25
Sumber; BBPBAP Jepara

4.5 Pemeliharaan

4.5.1 Pemberian Pakan
Pakan yang digunakan untuk pakan ikan kerapu di BBPBAP Jepara yaitu ikan rucah yang harganya relatif murah tetapi segar. Untuk menjaga kualitas pakan tetap segar perlu dilakukan perlakuan untuk penyimpanan pakan tersbut yaitu dicoolbox atau difr eez er. Pakan yang busuk sebaiknya jangan digunakan sebagai pakan karena memberikan dampak yang merugikan, karena dapat meningkatkan jumlah microorganisme yang tidak menguntungkan, serta sifat-sifat kandungan nutrisi yang penting bagipertumbuhan juga tidak tersedia. Ikan yang di beri pakan busuk biasanya akan lebih cepat terserang penyakit, pertumbuhannya lambat bahkan akan mengalami kematian yang tinggi selama dibudiayakan di tambak.
4.5.2 Pengukuran Kualitas Air

Pengukuran kualitas yang dilakukan oleh laboratorium BBPBAP
Jepara dilakukan satu minggu sekali

Tabel 3.4 Ukuran Kualitas Air Yang Ada Dalam Tambak
TGL/BLN/THN TOTAL BAKTERI VIBRIO KUALITAS AIR
CFU/ml CFU/ml TEMP DO SALINITAS PH
02-12-08 9000 200 29.5 4.06 24 7.9
09-12-08 11000 450 28.8 3.95 27 8.1
16-12-08 8000 560 28.2 3.3 22 8.3
23-12-08 12000 50 28.9 3.94 20 7.4
31-12-08 1000 30 28.6 3.1 12 7.3
06-01-09 3000 30 30.2 3.2 15 7.4
13-01-09 150 25.8 5.33 10 8.1
20-01-09 25.7 3.16 7 7.6
27-01-09 28.6 3.16 10 8.3

Pemanenan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) di pasarkan dalam keadaan hidup (live fish) sehingga penanganan ikan harus tetap terjaga setelah panen.Ikan yang mengalami luka atau ikan yang mati dapat menurunkan harga jual sampai setengah harganya.Oleh karna itu langkah- langkah persiapan panen harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadkematian pada saat dilakukan pemanenan.
Pemanen yang dilakukan di BBPBAP Jepara terdiri dari 2 cara pemanenan panen sebagian dan panen total. Panen sebagian merupakan panen yang dilakukan pada sebagian kerapu macan(Epinephelus fuscoguttatus) yang dibudidayakan. Taslihan, et.al.(2004), menjelaskan panen sebagian atau panen selektif merupakan panen yang dilakukan untuk ikan yang telah mencapai ukuran tertentu sesuai dengan permintaan konsumen.
Panen total merupakan panen yang dilakukan pada seluruh ikan yang dibudidayakan. Hal tersebut juga dinyatakan oleh Taslihan, et. al. (2004) yang menyatakan bahwa panen total dilakukan bila permintaan pasar sangat besar dan ukuran ikan sudah memenuhi kreteria.
Pemanenan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) di tambak BBPBAP Jepara dilakukan pada sore hari karena mendekati waktu pengangkutan yang dilakukan pada malam hari. Hal tersebut juga di ungkapkan oleh Direktorat Jendral Perikanan Budidaya (2004) hal ini dikarnakan suhu relative rendah sehingga mengurangi stress.
Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dipuasakan dengan cara menghentikan pemberian pakan selama 2-3 hari sebelum melakukan panen. hal yang sama juga diungkapkan oleh Komaruddin (2005), hal ini juga bertujuan mengurangi metabolisme selama pengangkutan.
Pelaksanaan pemanenan diawali dengan mengurangi volume air pada petakan sebesar 1/3 dari volume air total tambak.Pengambilan ikan dilakukan dengan menggunakan seser kemudian masukan serok kedalam salah satu ujungShelter yang terbuat dari pipa kemudian pipa tersebut diangkat hingga ikan kerapu yang di dalamShelter keluar.Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) ditampung di dalam hapa yang berukuran 3 x 3,5 x 1,5 meter.
Pengemasan di lakukan setelah panen yang bertujuan agar selama pengangkutan kondisi ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) tetap hidup, pengemasan dilakukan menggunakan tangki yang terdapat di atas mobil yang diberi aerasi.Purnomo, et al. (2002), menyatakan tujuan dari pengemasan adalah untuk mempertahankan kelulus hidupan selama perjalanan. Pengemasan yang dilakukan di BBPBAP Jepara disesuaikan dengan sistim pengangkutan dan alat angkut yaitu dengan cara pengangkutan sistim terbuka dengan menggunakan bak filter yang diletakan diatas truk. Wadah tersebut diisi air bersih dan dilengkapi dengan selang aerasi.
Proses pengangkutan yang dilakukan di BBPBAP Jepara terdri dari system pengangkutan terbuka dan tertutup. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Taslihan, at al. (2004) pengangkutan sistim terbuka dilakukan dengan menggunakan drum plastik atau bak fibreglass dengan ukuran 120 x 120 x 120 cm dengan diberi aerasi, kepadatan ikan kerapu macan(Epinephelus fuscoguttatus) sebesar 50 kg.
Suhu air selama perjalanan dipertahankan dengan suhu 19 – 20°C dengan cara penambahan es batu kedalam wadah penampungan. Taslihan, et al. (2004) menjelaskan pengangkutan terbuka digunakan untuk jarak pengangkutan yang dekat dengan waktu maksimal 7 jam dan alat angkut yang digunakan berupa kendaraan roda 4 seperti truk.
Pengangkutan system tertutup yang dilakukan di BBPBAP Jepara menggunakan kantong pelasti dengan perbangdingan air dengan oksigen sebesar 1 : 2. ujung kantong diikat lalu dikemas kedalamStyr ofoam. Suhu dipertahankan 19°C dengan cara memberi kantong plastik yang berisi es.
Sryrofoam ditutup rapat dan diberi perekat, untuk memperkecil
goncangannya selama pengangkutan. Talihan, et al (2004), menjelaskan
pengangkutan system tertutup umumnya digunakan pada pengangkutan dengan menggunakan pesawat atau pengangkutan dengan jarak yang lebih
jauh.


4.7 Potensi Pemasaran
Sistim pemasaran pada ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) di tambak BBPBAP Jepara dilakukan menurut pesanan yang berarti pemanenan dilakukan bila ada permintaan pasar, para pengumpul dan exsportir biasanya datang untuk melihat terlebih dahulu di lapangan dan melakukan negosiasi harga dan setelah terjadi kesepakatan maka kemudian ditentukan waktu pemanenan.
Bagi pemasaran dilakukan oleh tim penjualan yang bertugas menentukan harga dengan membandingkan harga yang berlaku di pasaran. Tim penjualan juga berkewajiban menyediakan alat-alat yang dibutuhkan untuk pengemasan dan pengangkutan, penyediaan alat-alat tersebut tergantung dari kesepakatan awal dengan pihak pembeli.
Usaha pembesaran ikan kerapu macan di tambak BBPBAP Jepara pada dasarnya bukan merupakan usaha yang komersial karen Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara ini mempunyai tujuan utama untuk penelitian. Ikan kerapu macan di tambak bisanya dijual apabila proyek penelitian sudah selasai. Selama ini belum pernah menjalin kerja sama dengan pihak lain dalam usaha pemasaran.
Usaha pembesaran di tambak BBPBAP Jepara kebanyakan dibelih oleh exsportir dari Jakarta, Surabaya, dan Semarang yang melakukan pengiriman ke Singapura, Hongkong, Taiwan, Jepang, Malaysia dan Amerika serikat. (Suyoto dan Mustahal, 2002)
KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
•Tambak untuk pembesaran ikan kerapu macan, lumpurnya berjenis
pasir dengan ukuran tambak 2000 m2 yang di dalamnya terdiri 4
sekat yang masing-masing di tebar ikan kerapu macan sebanyak 1000 ekor dan diberi shelter yang terbuat dari pipa paralon yang dilubangi pada bagian sisinya.
• Benih yang ditebar di hapa pedederan berasal dari Divisi Pembenihan di BBPBAP Jepara. Padat tebar untuk pembesaran 1000 ekor/petak dengan ukuran 10 m x 13 m x 0.8 m.
• Pakan yang diberikan pada ikan kerapu macan pada tambak pembesaran merupakan ikan rucah dan diberikan secara (adlibitum)
•Parameter kualitas air yang diukur yaitu salinitas 24-10°/oo, suhu
28.5-29.6°C, pH 7.9-803 dan oksigen terlarut 3.35-4.59 ppm.
•Pemanenan dilakukan pada saat benih ikan kerapu macan telah
mencapai umur 8-10 bulan dengan berat 100-200 gr/ekor.
•Hambatan yang dihadapi dalam pembesaran ikan kerapu macan yaitu pengadaan pakan yang berupa ikan rucah yang tidak kontinyu. Hal ini bisa diatasi dengan pemberian pakan berupa pelet.

5.2 Saran

•Selama pemeliharaan ikan kerapu di tambak sebaiknya pakan yang diberikan dikombinasikan dengan pelet karena pakan berupa ikan rucah bergantung pada musim.
• Penanganan ikan kerapu pada saat pemeliharaan harus dilakukan
dengan hati-hati terutama pada saat sampling, pemindahan benih dan
panen karena kecerobohan dapat menyebabkan kemati pada ikan
kerapu yang dapat merugikan usaha pembesaran.


DAFTAR PUSTAKA

Subyakto, S. dan S. Cahyaningsih. 2003. Pembenihan Kerapu Skala Rumah
Tangga. PT Agromedia Pustaka, Depok.
Direktorat Bina Pembenihan, Direktorat Jendral Perikanan, Departemen
Pertanian, 1996, Pembenihan Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus), Jakarta.
Ir. Sudjiharno dkk, 2004, Proyek Pengembangan Perekayasaan Teknologi Balai
Budidaya Laut Lampung.
Anonim 1991. Operasional Pembesaran Ikan Kerapu dalam Keramba Jaring
Apung .Departemen Direktorat Perikanan Balai Bididaya Laut.Lampung.
Suyoto, P.; Mustahal.2002. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis: Kerapu,Kakap,
Beronang. Penebar Swadaya, Jakarta.
Saanin,H.1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan.Banatjipta. Bandung.
Nybakken, W. 1988.Biologi laut, suatu pendekatan ekologi. Dalam: Anonim
Pembesaran Ikan Kerapu Macan dan Kerapu Tikus di Keramba Jaring Apung.
Departemen Pertanian, Direktorat Perikanan, Balai Laut . Lampung

Minggu, 16 Januari 2011

rumput laut ku

Rumput laut merupakan nama komoditi dalam perdagangan nasional untuk jenis alga dan bukan terjemahan dari ”seagrass” atau nama lokalnya padang lamun. Rumput laut tergolong tanaman yang berderajat rendah, umumnya tumbuh melekat pada substrat tertentu, tidak mempunyai akar, batang maupun daun sejati tetapi hanya mempunyai batang yang disebut thallus. Rumput laut hidup di alam dengan melekatkan dirinya pada karang, lumpur, pasir, batu, dan benda keras lainnya (Rorrer, et al. 2004; Lee, et al. 1999).
Pertumbuhan dan penyebaran rumput laut sangat tergantung dari faktor-faktor ekologis serta jenis substrat dasarnya. Untuk pertumbuhannya, rumput laut mengambil nutrisi dari lingkungan sekitarnya secara difusi melalui dinding thallusnya. Perkembangbiakannya dilakukan dua cara, yaitu secara kawin antara gamet jantan dan gamet betina (generatif) serta secara tidak kawin dengan melalui vegetatif, konjugatif dan persporaan (Ditjenkan Budidaya, 2005).
Struktur anatomi thallus tiap jenis rumput laut berbeda-beda, misalnya pada famili yang sama antara Eucheuma cottonii dan Eucheuma spinosom, patogen thallus yang melintang mempunyai susunan sel yang berbeda. Perbedaan ini membantu dalam pengenalan berbagai jenis rumput laut, baik dalam mengidentifikasi jenis, genus maupun famili (Aslan, 1988). Selanjutnya Kadi dan Atmaja (1988) memberikan ciri-ciri umum dari Eucheuma adalah thalli bulat silindris atau pipih, berwarna merah, merah coklat, hijau-kuning dan bercabang tidak teratur, mempunyai benjolan-benjolan atau duri, substansi thalli gelatinus dan atau kartilagenus.
Dawes (1981), menjelaskan sistematika rumput laut Eucheuma cottonii adalah sebagai berikut :
Kelas : Florideophycidae
Ordo : Gigartinales
Family : Solieriaceae
Genus : Eucheuma
Species : E. cottonii.
Menurut (Dawson, 1956; Rorrer, et al. 2004), bahwa pantai yang berterumbu karang merupakan tempat hidup yang baik bagi sejumlah besar spesies rumput laut dan hanya sedikit yang dapat hidup di pantai berpasir dan berlumpur misalnya Gracilaria sp. (Jones, et al. 2003). Substrat yang paling umum untuk tempat hidup rumput laut adalah kapur (Dawes, 1981). Selanjutnya (Dawes, 1981) juga menyatakan bahwa tipe substrat yang paling baik bagi pertumbuhan rumput laut adalah campuran pasir karang dan potongan atau pecahan karang, karena perairan dengan substrat demikian biasanya dilalui oleh arus yang sesuai bagi pertumbuhan rumput laut.

A. Latar Belakang
Rumput laut (sea weeds) yang dalam dunia ilmu pengetahuan dikenal sebagai Algae sangat populer dalam dunia perdagangan akhir – akhir ini.
Rumput laut dikenal pertama kali oleh bangsa Cina kira – kira tahun 2700 SM. Pada saat itu rumput laut banyak digunakan untuk sayuran dan obat – obatan. Pada tahun 65 SM, bangsa Romawi memanfaatkannya sebagai bahan baku kosmetik. Namun dengan perkembangan waktu, pengetahuan tentang rumput lautpun semakin berkembang. Spanyol, Perancis, dan Inggris menjadikan rumput laut sebagai bahan baku pembuatan gelas.
Kapan pemanfaatan rumput laut di Indonesia tidak diketahui. Hanya pada waktu bangsa Portugis datang ke Indonesia sekitar tahun 1292, rumput laut telah dimanfaatkan sebagai sayuran. Baru pada masa sebelum perang dunia ke – 2, tercatat bahwa Indonesia telah mengekspor rumput laut ke Amerika Serikat, Denmark, dan Perancis.

Sekarang ini rumput laut di Indonesia banyak dikembangkan di pesisir pantai Bali dan Nusa Tenggara. Mengingat panjangnya garis pantai Indonesia (81.000 km), maka peluang budidaya rumput laut sangat menjanjikan. Jika menilik permintaan pasar dunia ke Indonesia yang setiap tahunnya mencapai rata – rata 21,8 % dari kebutuhan dunia, sekarang ini pemenuhan untuk memasok permintaan tersebut masih sangat kurang, yaitu hanya berkisar 13,1%. Rendahnya pasokan dari Indonesia disebabkan karena kegiatan budidaya yang kurang baik dan kurangnya informasi tentang potensi rumput laut kepada para petani.

B. Kandungan
Rumput laut yang banyak dimanfaatkan adalah dari jenis ganggang merah (Rhodophyceae) karena mengandung agar – agar, keraginan, porpiran, furcelaran maupun pigmen fikobilin (terdiri dari fikoeretrin dan fikosianin) yang merupakan cadangan makanan yang mengandung banyak karbohidrat. Tetapi ada juga yang memanfaatkan jenis ganggang coklat (Phaeophyceae). Ganggang coklat ini banyak mengandung pigmen klorofil a dan c, beta karoten, violasantin dan fukosantin, pirenoid, dan lembaran fotosintesa (filakoid). Selain itu ganggang coklat juga mengandung cadangan makanan berupa laminarin, selulose, dan algin. Selain bahan – bahan tadi, ganggang merah dan coklat banyak mengandung jodium.

C. Manfaat
1. Agar – agar
Masyarakat pada umumnya mengenal agar – agar dalam bentuk tepung yang biasa digunakan untuk pembuatan puding. Akan tetapi orang tidak tahu secara pasti apa agar – agar itu. Agar – agar merupakan asam sulfanik yang meruapakan ester dari galakto linier dan diperoleh dengan mengekstraksi ganggang jenis Agarophytae. Agar – agar ini sifatnya larut dalam air panas dan tidak larut dalam air dingin.

Sekarang ini penggunaan agar – agar semakin berkembang, yang dulunya hanya untuk makanan saja sekarang ini telah digunakan dalam industri tekstil, kosmetik, dan lain – lain. Fungsi utamanya adalah sebagai bahan pemantap, dan pembuat emulsi, bahan pengental, bahan pengisi, dan bahan pembuat gel. Dalam industri, agar – agar banyak digunakan dalam industri makanan seperti untuk pembuatan roti, sup, saus, es krim, jelly, permen, serbat, keju, puding, selai, bir, anggur, kopi, dan cokelat. Dalam industri farmasi bermanfaat sebagai obat pencahar atau peluntur, pembungkus kapsul, dan bahan campuran pencetak contoh gigi. Dalam industri tekstil dapat digunakan untuk melindungi kemilau sutera. Dalam industri kosmetik, agar – agar bermanfaat dalam pembuatan salep, krem, lotion, lipstik, dan sabun. Selain itu masih banyak manfaat lain dari agar – agar, seperti untuk pembuatan pelat film, pasta gigi, semir sepatu, kertas, dan pengalengan ikan dan daging.

2. Keraginan
Keraginan merupakan senyawa polisakarida yang tersusun dari unit D-galaktosa dan L-galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa yang dihubungkan oleh ikatan 1 – 4 glikosilik. Ciri kas dari keraginan adalah setiap unit galaktosanya mengikat gugusan sulfat, jumlah sulfatnya lebih kurang 35,1%.
Kegunaan keraginan hampir sama dengan agar – agar, antara lain sebagai pengatur keseimbangan, pengental, pembentuk gel, dan pengemulsi. Keraginan banyak digunakan dalam industri makanan untuk pembuatan kue, roti, makroni, jam, jelly, sari buah, bir, es krim, dan gel pelapis produk daging. Dalam industri farmasi banyak dimanfaatkan untuk pasta gigi dan obat – obatan. Selain itu juga dapat dimanfaatkan dalam industri tekstil, kosmetik dan cat.

3. Algin (Alginat)
Algin ini didapatkan dari rumput laut jenis algae coklat. Algin ini merupakan polimer dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linier panjang. Bentuk algin di pasaran banyak dijumpai dalam bentuk tepung natrium, kalium atau amonium alginat yang larut dalam air.
Kegunaan algin dalam industri ialah sebagai bahan pengental, pengatur keseimbangan, pengemulsi, dan pembentuk lapisan tipis yang tahan terhadap minyak. Algin dalam industri banyak digunakan dalam industri makanan untuk pembuatan es krim, serbat, susu es, roti, kue, permen, mentega, saus, pengalengan daging, selai, sirup, dan puding. Dalam industri farmasi banyak dimanfaatkan untuk tablet, salep, kapsul, plester, dan filter. Industri kosmetik untuk cream, lotion, sampo, cat rambut,. Dan dalam industri lain seperti tekstil, kertas, fotografi, insektisida, pestisida, dan bahan pengawet kayu.

D. Fungsi TON dalam Ekologi Rumput Laut
Rumput laut pertama kali ditemukan hidup secara alami bukan hasil budidaya. Mereka tersebar di perairan sesuai dengan lingkungan yang dibutuhkannya. Rumput laut memerlukan tempat menempel untuk menunjang kehidupannya. Di alam tempat menempel ini bisa berupa karang mati, cangkang moluska, dan bisa juga berupa pasir dan lumpur.

Selain itu rumput laut sangat membutuhkan sinar matahari untuk melangsungkan proses fotosintesa. Banyaknya sinar matahari ini sangat dipengaruhi oleh kecerahan air laut. Supaya kebutuhan sinar matahari tersedia dalam jumlah yang optimal maka harus diatur kedalaman dalam membudidayakannya. Kedalaman idealnya adalah berada 30 – 50 cm dari permukaan air.

Proses fotosintesa rumput laut tidak hanya dipengaruhi oleh sinar matahari saja, tetapi juga membutuhkan unsur hara dalam jumlah yang cukup baik makro maupun mikro. Unsur hara ini banyak didapatkan dari lingkungan air yang diserap langsung oleh seluruh bagian tanaman. Untuk mensuplai unsur hara ini biasanya dilakukan pemupukan selama budidaya. Untuk membantu menyediakan unsur hara dalam jumlah yang optimal dan supaya cepat diserap oleh rumput laut ini, maka harus disediakan unsur hara yang sudah dalam keadaan siap pakai (ionik). Unsur hara ini banyak dikandung dalam TON (Tambak Organik Nusantara).

TON (Tambak Organik Nusantara), mengandung segala bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pertumbuhan rumput laut. Baik menyediakan unsur hara mikro lengkap, juga menyediakan unsur makro. Selain itu TON juga akan meningkatkan kualitas rumput laut, karena akan menurunkan tingkat pencemaran logam berat yang juga akan terserap oleh rumput laut. Jika logam berat ini tidak ada yang mengikat, maka akan ikut terserap dalam proses absorbsi unsur hara dari rumput laut, sehingga sangat berbahaya bagi konsumen. Dengan adanya TON, logam berat ini akan terikat dalam bentuk senyawa dan akan mengendap atau sulit terserap oleh proses absorbsi.

Pertumbuhan rumput laut juga dipengaruhi oleh jumlah oksigen terlarut (DO), salinitas (kadar garam) dan temperatur. Kandungan Oksigen selain dipengaruhi oleh gerakan air juga dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara. Sehingga TON juga sangat penting untuk menunjang ketersediaan oksigen di perairan. Temperatur ideal bagi pertumbuhan rumput laut adalah berkisar 200 – 280 C

Dengan tersedianya unsur hara dalam jumlah yang optimal dan kondisi lingkungan yang seimbang karena pengaruh TON, maka kualitas dan kuantitas bahan – bahan yang dikandung oleh rumput laut juga akan meningkat.

Selain itu, pemakaian TON untuk budidaya rumput laut juga akan membantu mengikat senyawa – senyawa dan unsur – unsur berbahaya dalam perairan. Senyawa – senyawa dan unsur-unsur ini jika teradsorbsi dalam sistem metabolisme rumput laut, akan mengganggu pertumbuhan rumput laut dan juga akan menurunkan kualitas hasilnya. Selain itu jika rumput laut ini akan digunakan untuk bahan makanan, akan sangat berbahaya bagi yang menkonsumsinya. Kandungan senyawa karbon aktif dari TON akan sangat membantu untuk mereduksi senyawa-senyawa dan unsur – unsur berbahaya tersebut.

E. Budidaya Rumput Laut dan Cara Pemakaian TON (Tambak Organik Nusantara)
Dalam menjalankan budidaya rumput laut, pertama yang harus diperhatikan adalah pemilihan lokasi budidaya. Sebaiknya lokasi budidaya diusahakan di perairan yang tidak mengalami fluktuasi salinitas (kadar garam) yang besar dan bebas dari pencemaran industri maupun rumah tangga. Selain itu pemilihan lokasi juga harus mempertimbangkan aspek ekonomis dan tenaga kerja.

Budidaya rumput laut dapat dilakukan di areal pantai lepas maupun di tambak. Dalam pembahasan sekarang ini kita akan menekankan pada budidaya di tambak. Hal ini mengingat peran TON yang tidak efektif jika diperairan lepas (pantai). Untuk budidaya perairan lepas dibedakan dalam beberapa metode, yaitu :
1. Metode Lepas Dasar
Dimana cara ini dikerjakan dengan mengikatkan bibit rumput laut pada tali – tali yang dipatok secara berjajar – jajar di daerah perairan laut dengan kedalaman antara 30 – 60 cm. Rumput laut ditanam di dasar perairan.

2. Metode Rakit
Cara ini dikerjakan di perairan yang kedalamannya lebih dari 60 cm. Dikerjakan dengan mengikat bibit rumput di tali – tali yang diikatkan di patok – patok dalam posisi seperti melayang di tengah – tengah kedalaman perairan.

3. Metode Tali Gantung
Jika dua metode di atas posisi bibit – bibit rumput laut dalam posisi horizontal (mendatar), maka metode tali gantung ini dilakukan dengan mengikatkan bibit – bibit rumput laut dalam posisi vertikal (tegak lurus) pada tali – tali yang disusun berjajar.

Pemakaian TON dengan 3 cara di atas hanya dapat dilakukan dengan sistem perendaman bibit. Karena jika TON diaplikasikan di perairan akan tidak efektif dan akan banyak yang hilang oleh arus laut. Metode perendaman bibit dilakukan dengan cara :
1. Larutkan TON dalam air laut yang ditempatkan dalam wadah .
2. Untuk 1 liter air laut diberikan seperempat sendok makan (5 – 10 gr) TON dan tambahkan 1 – 2 cc Hormonik.
3. Rendam selama 4 – 5 jam, dan bibit siap ditanam.

Pemakaian TON akan sangat efektif jika diaplikasikan dalam budidaya rumput laut di tambak. Cara budidaya di tambak ini dapat dilakukan dengan metode tebar. Caranya adalah sebagai berikut :
1. Tambak harus dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran.
2. Tambak dikeringkan dahulu.
3. Taburkan kapur agar pH-nya netral ( 0,5 – 2 ton per-hektar tergantung kondisi keasaman lahan).
4. Diamkan selama 1 minggu.
5. Aplikasikan TON, dengan dosis 1 – 5 botol per-hektar (untuk daerah – daerah yang tingkat pencemarannya tinggi, dosisnya ditinggikan), dengan cara dilarutkan dengan air dahulu, kemudian disebar secara merata di dasar tambak.
6. Diamkan 1 hari
7. Masukkan air sampai ketinggian 70 cm.
8. Tebarkan bibit rumput laut yang sudah direndam dengan TON dan hormonik seperti cara perendaman di atas. Dengan kepadatan 80 – 100 gram/m2.
9. Bila dasar tambak cukup keras, bibit dapat ditancapkan seperti penanaman padi.
10. Tidak perlu ditambah pupuk makro.

F. Pemeliharaan dan aplikasi TON (Tambak Organik Nusantara) susulan.
Selama budidaya, harus dilakukan pengawasan secara kontinyu. Khusus untuk budidaya di tambak harus dilakukaan minimal 1 – 2 minggu setelah penebaran bibit, hal ini untuk mengontrol posisi rumput laut yang ditebar. Biasanya karena pengaruh angin, bibit akan mengumpul di areal tertentu, jika demikian harus dipisahkan dan ditebar merata lagi di areal tambak.

Kotoran dalam bentuk debu air (lumpur terlarut/ suspended solid) sering melekat pada tanaman, apalagi pada perairan yang tenang seperti tambak. Pada saat itu, maka tanaman harus digoyang – goyangkan di dalam air agar tanaman selalu bersih dari kotoran yang melekat. Kotoran ini akan mengganggu metabolisme rumput laut. Beberapa tumbuhan laut seperti Ulva, Hypea, Chaetomorpha, dan Enteromorpha sering membelit tanaman. Tumbuhan – tumbuhan tersebut harus segera disingkirkan dan dipisahkan dari rumput laut agar tidak menurunkan kualitas hasil. Caranya dengan mengumpulkannya di darat. Bulu babi, ikan dan penyu merupakan hewan herbivora yang harus dicegah agar tidak memangsa rumput laut. Untuk menghindari itu biasanya dipasang jaring disekeliling daerah budidaya. Untuk budidaya di tambak di lakukan dengan memasang jaring di saluran pemasukan dan pengeluaran.

G. Pemanenan
Pada tahap pemanenan ini harus diperhatikan cara dan waktu yang tepat agar diperoleh hasil yang sesuai dengan permintaan pasar secara kualitas dan kuantitas.

Tanaman dapat dipanen setelah umur 6 – 8 minggu setelah tanam. Cara memanen adalah dengan mengangkat seluruh tanaman rumput laut ke darat. Rumput laut yang dibudidayakan di tambak dipanen dengan cara rumpun tanaman diangkat dan disisakan sedikit untuk dikembangbiakkan lebih lanjut. Atau bisa juga dilakukan dengan cara petik dengan memisahkan cabang – cabang dari tanaman induknya, tetapi cara ini akan berakibat didapatkannya sedikit keraginan dan pertumbuhan tanaman induk untuk budidaya selanjutnya akan menurun.

Jika rumput laut dipanen pada usia sekitar satu bulan, biasanya akan diperoleh perbandingan berat basah dan berat kering 8 : 1, dan jika dipanen pada usia dua bulan biasanya akan didapat perbandingan 6 : 1. Untuk jenis gracilaria biasanya diperoleh hasil panen sekitar 1500 – 2000 kg rumput laut kering per- hektarnya. Diharapkan dengan penggunaan TON (Tambak Organik Nusantara) akan meningkat sekitar 30 – 100 %.