LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI PERIKANAN
Mata Kuliah : Biologi Perikanan
Kelompok I :
1. Aris Munandar : 08. 0529. c
2. Joko Pranoto : 08. 0532. c
3. Prawiro : 08. 0534. c
4. Risky Dwi Oktaviana : 08. 0536. c
5. Supiyanto : 08. 0539. c
FAKULTAS PERIKANAN
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
UNIVERSITAS PERIKANAN
2011
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 latar belakang
Ilmu Biologi Perikanan merupakan salah satu ilmu yang mendasari ilmu-ilmu perikanan tangkap lainnya seperti Metode Penangkapan Ikan, Penanganan Ikan serta ilmu lainnya. Oleh karena itu ilmu Biologi Perikanan ini sangat penting. Ibaratnya kita ingin makan, tetapi tidak tahu apa yang akan dimakan. Ilmu Biologi perikanan juga seperti itu, kita ingin menangkap ikan tetapi tidak tau ikan apa yang akan ditangkap. Tujuan dari pada mempelajari Biologi Perikanan ini adalah agar kita mengetahui pembagian daerah perairan berdasarkan kedalaman yaitu antara lain pelagic, mid water dan demersal serta pembagian berdasarkan kriteria yang lain. Selain itu tentang anatomi dan fisiologi ikan juga patut kita pelajari. Dan yang paling penting adalah kita mengetahui jenis ikan ekonomis penting serta penyebarannya di perairan.
Pembagian daerah perairan dapat dibagi menjadi beberapa zona. Beberapa istilah yaitu Supralithoral yaitu dasar perairan yang selalu dalam keadaan basah karena adanya hempasan ombak yg datang/pergi. lalu Sub lithoral yaitu daerah pasang surut sampai kedalaman ± 20 m. dan Eu-lithoral yaitu bagian dasar perairan dihitung dari garis surut sampai kedalaman ± 200 m.
1.2 Tujuan
Tujuan dari kegiatan praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui pendugaan populasi dengan metode petterson-Sensus ganda
2. Mengetahui hubungan berat dan panjang ikan layang.
3. Mengetahui tingkat pematangan gonad dan indeks gonado somatik ikan layang (Decapterus russelli).
4. Mengetahui fekunditas telur ikan layang (Decapterus russelli).
1.3 Manfaat
Kegiatan praktikum ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai aspek biologi ikan layang (Decapterus russelli) dan ikan mujair (Oreochromis mossambicus) yang dapat dijadikan bahan dalam pengembangan pengelolaan sumberdaya ikan layang dan mujair baik untuk kepentingan penangkapan maupun budidaya agar kelestariannya dapat berkelanjutan.
1.4 Waktu Dan Tempat
Praktek mata kuliah “ Biologi Perikanan ” ini dilakasanakan pada hari kamis, 30 Desember 2010. Praktek dilaksanakan pada pukul.09.30 – selesai , dan bertempat Laboratorium Biologi,Universitas Pekalongan.
BABII
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ikan Mujair
Ikan mujair merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, bentuk badan pipih dengan warna abu-abu, coklat atau hitam. Ikan ini berasal dari perairan Afrika dan pertama kali di Indonesia ditemukan oleh bapak Mujair di muara sungai Serang pantai selatan Blitar Jawa Timur pada tahun 1939. Ikan mujair mempunyai toleransi yang besar terhadap kadar garam/salinitas. Jenis ikan ini mempunyai kecepatan pertumbuhan yang relatif lebih cepat, tetapi setelah dewasa percepatan pertumbuhannya akan menurun. Panjang total maksimum yang dapat dicapai ikan mujair adalah 40 cm.
Sentra perikanan terdapat didaerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera, Kalimantan.
Klasifikasi ikan mujair adalah sebagai berikut:
- Kelas : Pisces
- Sub kelas : Teleostei
- Ordo : Percomorphi
- Sub-ordo : Percoidea
- Famili : Cichlidae
- Genus : Oreochromis
- Species : Oreochromis mossambicus
Adapun jenis ikan mujair yang dikenal antara lain: mujair biasa, mujair merah (mujarah) atau jamerah dan mujair albino.
2.2Ikan Layang
Ikan layang merupakan salah satu jenis ikan laut yang sering dijadikan sebagai teman nasi. Orang banyak yang menyukai ikan ini disamping rasanya enak ikan ini juga mempunyai nilai giji yang tinggi. Ikan layang diolah dan dijual di banyak pasar umum dan tradisional umumnya yang mengkonsumsi jenis ikan ini adalah kalangan menengah ke bawah, karena harga jenis ikan ini adalah relatif murah. Tingkat konsumsi ikan di negara kita masih rendah bila dibandingkan dengan negara-negara di tetangga kita, oleh karena itu sangatlah cocok bila ikan layang ini dijadikan sebagai makanan yang dikonsumsi sehari-hari sebagai salah satu cara untuk meningkatkan konsumsi ikan di masyarakat.
Klasifikasi ikan layang menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut:
- Filum : Chordata
- Subfilum : Vertebrata
- Kelas : Actinopterygii
- Ordo : Perciformes
- SubOrdo : Percoidei
- Famili : Carangidae
- Genus : Decapterus
- Spesies : Decapterus russelli RUPPELL
Ikan layang (Decapterus russelli) mempunyai nama umum round scad (Nurhakim, 1987). Ikan layang merupakan ikan yang mempunyai kemampuan bergerak dengan cepat di air laut. Tingginya kecepatan tersebut dapat dicapai karena bentuk tubuhnya yang seperti cerutu dan mempunyai sisik yang sangat halus (Burhanuddin et. al. 1981).
Ikan layang (Decapterus russelli) bentuk tubuh seperti cerutu tetapi agak pipih, sirip dada lebih pendek dari panjang kepala, maxilla hampir mencapai lengkung mata terdepan, ikan layang (Decapterus russelli) dalam keadaan segar seluruh tubuhnya berwarna merah jambu, dan pada bagian belakang tutup insang terdapat totol hitam (Burhanuddin et al, 1981). Menurut Anonimous (1990) ciri-ciri ikan layang adalah bentuk tubuh memanjang dan agak gepeng. Nurhakim (1987) menyatakan sirip dada berbentuk falcate dan ujung sirip tersebut mencapai awal dari sirip punggung kedua.
Ikan layang merupakan ikan perenang cepat yang hidup berkelompok di Laut yang jernih dan bersalinitas tinggi. Menurut Hariati et al., (2005) Ikan layang (Decapterus russelli) hidup di perairan dengan salinitas tinggi yaitu ± 32‰. Ikan layang juga termasuk dalam ikan stenohalyn yang dapat hidup dengan memakan plankton (Burhanuddin et.al.,1981). Makanan ikan layang sangat tergantung pada plankton, terutama jenis-jenis zooplankton. Pada beberapa kasus ternyata bahwa ikan layang tidak mutlak tergantung pada zooplankton. Tiews et al. (1968) dalam Burhanuddin et al. (1981) mendapatkan bahwa ikan-ikan kecil merupakan makanan bagi Decapterus russelli dan Burhanuddin pernah menemukan satu ekor dari kota agung isi perutnya hanya dua ekor ikan teri (Stolephorus spp.) dan seekor ikan japuh (Dussumiera acuta). Menurut Martosewojo dan Djamali (1980) dalam Burhanuddin (1981) makanan Decapterus russelli yang utama adalah Crustacea seperti Copepoda serta telurnya, Mysidacea, Amphipoda, Ostracoda, dan potongan-potongan udang.
BAB III
MATERI DAN METODE
3.1 Fekunditas
Fekunditas adalah tingkat kematangan gonad. Menggunakan ikan mujahir sebagai objek praktikum. Cara mendapatkan telur dengan cara pembedahan, ada beberapa cara menghitung telur.
- Cara menjumlah langsung ( telur ukuran besar/ bisa dilihat dengan kasat mata.
- Cara volumetric.
- Gabungan dari penjumlahan langsung dan volumetric.
Langkah- langkah Perhitungan Volumetric.
- Ikan dibedah terlebih dahulu untuk mendapatkan kantong telur atau gonad.
- Kantong telur diangkat dan diangin-anginkan dan menggunakan kertas saring sebagai wadah.
- Ukur volume gonad menggunakan gelas ukur.
- Kantong gonad dibuka kemudian diambil sampling sebanyak 3 kali, kemudian dirata-rata.
Perhitungan Cara Gabungan.
- Setelah diangin-anginkan, gonad ditimbang.
- Setalah telur ditimbang, mengambil sampling 3 kali, ditimbang.
- Kemudian diencerkan dengan 50cc air.
- Ambil sampling 1 cc, di teteskan ke kaca preparat, dihitung jumlahnya menggunakan kaca pembesar.
3.2 Pendugaan Populasi.
Pendugaan populasi dengan cara simulasi menggunakan biji jagung sebagai ikan dan biji kedelai sebagi ikan yang sudah diberi tanda.
Langkah-langkah pendugaan populasi dengan cara simulasi:
- Biji jagung disebar merata kedalam tampah.
- Kemudian menggunakan gelas ukur yang digunakan sebagai jaring diletakkan di sembarang tempat dengan tidak melihat.
- Biji jagung yang tertangkap diambil, dihitung kemudian setelah di hitung biji jagung tersebut diganti dengan biji kedelai sebagai tanda ikan sudah diberi tanda.
- Kemudian biji kedelai tersebut dimasukkan kembali kedalam tampah secara merata.
- Kemudian dilakukan sampling sebanyak 7 kali, dan langkahnya berulang-ulang seperti diatas.
3.3 Hubungan Berat dan Panjang.
Hubungan berat dan panjang ikan merupakan cara pengontrolan pertumbuhan ikan, sesuai atau tidaknya berat dan panjang ikan.
Menggunkan ikan layang sebagai objek praktikum, langkah-langkahnya :
- Ikan layang sebanyak 55 ekor ditimbang, kemudian langsung diukur panjangnya agar datanya tidak tertukar.
- Berulang-ulang dilakukan sampai ikan habis dan datanya terkumpul.
- Setelah data terkumpul dilakukan perhitungan dengan rumus.
3.4 Alat dan Bahan.
1. Fekunditas.
- Ikan Mujahir
- Alat-alat operasi
- Kaca pembesar (luv)
- Kertas saring
- Kaca preparat
- Gelas ukur
- Timbangan
- Talenan
2. Pendugaan Populasi (system simulasi).
- Biji jagung (ikan)
- Biji kedelai (ikan yang sudah diberi tanda)
- Tampah (wadah perairan)
- Gelas ukur (Jaring)
3. Hubungan Berat dan Panjang.
- Ikan layang
- Timbangan
- Penggaris
BABIV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengukuran Fekunditas.
Alat dan bahan :
• Alat Bedah
• Gelas Ukur
• Timbangan Elektrik
• Kertas Saring
• Pipet Volumetrik
• Mikroskop/Luv
• Kaca Preparat
• Ikan Mujair
Tabel Pengamatan
No Ikan Berat Gonad
(G) Volume Pengenceran (V) JumlahTelur/cc
(X) Berat Telur Sampling (Q) Fekunditas (F)
4.2 Pendugaan Populasi.
Alat dan bahan :
• Biji Jagung
• Biji Kacang
• Tampah
• Gelas
4.3 Pendugaan Populasi.
Alat dan bahan :
• Pengukur Panjang Ikan
• Timbangan
• Ikan Layang
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Fekunditas atau kematangan gonad, sangat berpengaruh terhadap baik atau tidak nya kualitas ikan yang akan di hasilkan nanti.
2. Pendugaan populasi berguna untuk mengetahui jumlah banyaknya ikan pada suatu perairan dengan cara metode petterson atau sensus ganda. sampling ikan yang tertangkap.
3. Hubungan berat dan panjang ikan berpengaruh pada banyak tidaknya ikan.
Saran
1. Sebaiknya praktikum untuk pendugaan populasi pada ikan lebih baik dilakukan langsung di kolam atau di tambak.
2. Kurang lengkapnya alat –alat untuk praktikum di lab sehingga mempersulit untuk praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Cholik, F., Artati dan Arifudin. 1984. Pengelolaan Kualitas Air Kolam Ikan. Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta.
Effendie, M.I. 1979. Metoda Biologi Perikanan. Yayasan Dwi Sri, Bogor.
Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N. Katikasari and S. Wirjoatmodjo. 1993. Fresh Water Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Periplus Editions Limited-Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
Steel, R.G.D., dan J.H. Torrie. 1989. Prinsip-prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan Biometrik. PT Gramedia, Jakarta.
Sumantadinata, K. 1983. Pengembangbiakan Ikan-ikan Peliharaan di Indonesia. Sastra Hudaya.
Wotton, R.J. 1979. Energy Cost of Production and Evironmental of Fecundity in Teleost Fishes. Pp 123-159, In: P.J. Miller (ed) Fish Physiology: Anabolic Adaptifines in Teleost. 200 Logical. Society of London Academic Press, London
jangan lupa kunjungi sponsor kami, silahkan klik link di bawah"terima kasih telah berkunjung ke blog saya, ditunggu kritik dan sarannya"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar